Studi Kebantenan
Laporan Ekspedisi Kebudayaan Banten
Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Studi Kebantenan
Dosen Pengampu : Dr. Hj Enggar Utari, M.Si
Pusfita Mawarni
2224190060
JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2020
Kebudayaan Banten
Kebudayaan Provinsi Banten sangatlah unik. Beragam suku bangsa yang mendiami
daerah Banten ini menjadikan kebudayaan Provinsi Banten semakin Beragam. Secara
kultural wilayah Provinsi Banten terbagi atas tiga wilayah. Wilayah Banten
Utara (Kabupaten Serang dan Cilegon) didominasi oleh orang-orang dari suku Jawa
dan Cirebon. Wilayah Banten Selatan (Kabupaten Lebak dan Pandeglang) didominasi
suku Sunda. Wilayah Banten Timur (Kabupaten/ Kota Tangerang) masyarakat
heterogen. Ada beberapa suku bangsa pendatang yang bermukim di wilayah
tersebut. Tiap-tiap suku bangsa ini mempunyai kebudayaan sendiri. Suku
bangsa pendatang membawa kebudayaan aslinya dan mengembangkannya di wilayah
Banten. Terjadilah akulturasi budaya pada tataran kehidupan masyarakatnya.
Percampuran multi etnik inilah yang membuat adat tradisi budaya Banten menjadi
khas, unik, dan menarik. Kebudayaan Banten sangatlah beragam mulai dari bahasa daerah, pakaian
adat, rumah adat, kesenian, dan senjata tradisional.
A. Bahasa
Penduduk Asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek
yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan
sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang
memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal),
yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian
tenggara Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan
Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan Bahasa Sunda Campuran,
Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan
Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa.
Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan
dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa
Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga
digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.
B. Budaya dan Nilai
Sebagian besar anggota masyarakat Banten memeluk Agama Islam dengan semangat religius
yang sangat tinggi, tetapi pemeluk agama lain dapat hidup berdampingan dengan
damai. Potensi dan kekhasan budaya masyarakat Banten, antara lain Seni
Bela Diri Pencak Silat, Debus, Rudad, Umbruk, Tari Saman, Tari Topeng, Tari
Cokek, Dog-dog, Palingtung, dan Lojor. Di samping itu juga terdapat
peninggalan warisan leluhur antara lain Masjid Agung Banten Lama, Makam Keramat
Panjang, dan masih banyak peninggalan lainnya.
Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih
menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup
lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng
seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten
Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai
Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan
dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh
dirusak.
C. Pakaian Adat
Pakaian adat Banten pada pria mengenakan pakaian model baju koko dengan lehernya
yang tertutup. Serta pakaian bawahnya dilengkapi celana panjang serta
diikatkan dengan kain batiknya. Pada bajunya dikenakan ikat pinggang dan diselipkan
sebilah parang di bagian depan. Serta di bahu diselempengkan sehelai
kain. Sedangkan pakaian adat Banten pada wanitanya, memakai baju adat
kebaya serta kain batin sebagai bawahannya. Pakaian ini juga diselempangkan
sehelai kain di bahu dan dihiasi dengan bros kerajinan tangan pada bagian depan
kancing kebayanya. Pada rambut di sanggul dan dihiasi dengan kembang goyang
berwarna keemasan.
Masyarakat Banten mengenal tiga jenis pakaian adat
yang digunakan untuk upacara pengantin. Pakaian adat tersebut, antara lain
pakaian pengantin Banten Kebesaran, Banten Lestari, dan Banten Gaya Tangerang.
Setiap jenis pakaian adat ini memiliki ciri khas dan tujuan pemakaian
tersendiri. Pada pakaian adat Banten Kebesaran, kedua mempelai
mengenakan kain berbahan beludru dengan warna hijau atau hitam. Terdapat
berbagai macam hiasan pada pakaian dengan menggunakan benang emas. Penutup
kepala mempelai pria disebut makutaraja. Mempelai wanita juga mengenakan
penutup kepala yang disebut makuta. Mempelai pria memakai selop serta tombak
pendek sebagai pelengkap pakaiannya. Sebagai pelengkap pakaian, mempelai wanita
mengenakan kalung , giwang, gelang, dan selop.
Seni Arsitektur Sunda terlihat pada bantuk rumah
dan perkampungan suku Badui dan Adat Kasepuhan Banten Kidul (Cisungsang). Rumah
tradisionalnya berbentuk panggung yang dinamakan imah. Dari segi bentuk tidak
terlihat berbeda antara rumah adat Baduy dengan rumah Adat Kasepuhan. Namun, dari
segi bahan yang digunakan untuk pembuatannya terdapat perbedaan. Masyarakat
Baduy masih memegang teguh adat istiadat sehingga kesederhanaan pada bentuk
rumahnya masih sangat terlihat. Sebaliknya, rumah adat kasepuhan terlihat lebih
modern karena sudah menggunakan unsur-unsur kebudayaan modern.
E. Kesenian
Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia
untuk menciptakan dan melahirkan hal-hal yang bernilai indah. Ukuran
keindahannya tergantung pada kebudayaan setempat, karena kesenian sebagai salah
satu unsur kebudayaan. Dari segi macam-macamnya, kesenian itu
terdapat banyak macamnya, dari yang bersumber pada keindahan suara dan
pandangan sampai pada perasaan, bahkan mungkin menyentuh spiritual. Tanda-tanda kesenian Banten merupakan kesenian
peninggalan sebelum Islam dan dipadu atau diwarnai dengan agama Islam. Misalnya
arsitektur mesjid dengan tiga tingkat sebagai simbolisasi Iman, Islam, Ihsan,
atau Syari’at, tharekat, hakekat. Arsitektur seperti ini berlaku di seluruh
masjid di Banten. Kemudian ada kecenderungan berubah menjadi bentuk kubah, dan
mungkin pada bentuk apa lagi, tapi yang nampak ada kecenderungan lepas dari
simbolisasi agama melainkan pada seni itu sendiri.
Mengenai kesenian lain, ada pula yang teridentifikasi
kesenian lama (dulu) yang belum berubah, kecuali mungkin kemasannya.
Kesenian-kesenian dimaksud ialah : Seni Debus Surosowan, Seni Debus Pusaka Banten, Seni Rudat, Seni Terbang Gede, Seni Patingtung, Seni Wayang Golek, Seni Saman, Seni Sulap-Kebatinan, Seni Angklung Buhun, Seni Beluk, Seni Wawacan Syekh, Seni Mawalan, Seni Kasidahan, Seni Tari Wewe, Dan lain-lain.
1) Seni Pertunjukan
Salah satu kesenian tradisional asli Banten adalah
Debus. Kesenia debus adalah kombinasi dari seni tari, seni suara, dan seni
kabatinan yang bernuansa magis. Pertunjukan debus dilakukan dengan beberapa
tahapan. Pertama-tama debus diawali dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan
salawat nabi dan dzikir kepada Allah swt. Selanjutnya beluk, yaitu lantunan
zikir dengan suara keras, nyaring dan saling bersahutan diiringi tetabuhan.
Bersamaan dengan itu dipertunjukkan atraksi-atraksi kekebalan tubuh seperti menyayat
bagian tubuh, memakan kaca, tidur diatas papan berpaku, atau memasak dengan
tungku diatas kepala yang diperagakan para pemainnya. Atraksi ini diakhiri
dengan gemrung, yaitu permainan alat musik tetabuhan.
Debus hanyalah salah satu seni pertunjukan di Banten.
Masih banyak jenis pertunjukan yang lain, seperti jipeng, rudat, pencak silat,
pantun buhun, rampak gendang, reog, wayang golek, dan wayang garing.
2) Tari Tradisional
Banten memiliki
beragam tarian tradisional yang biasanya dipentaskan dalam berbagai upacara
adat, penyambutan tamu, atau pentas budaya. Salah satu kesenian tari
tradisional Banten yang cukup terkenal adalah tari Cokek yang berasal dari
Tangerang. Tarian ini dibawakan oleh sepuluh penari wanita dan diiringi alat
musik gambang kromong yang dimainkan oleh tujuh pemusik pria. Dahulu tarian
yang berkesan erotis ini digunakan untuk hiburan orang-orang Belanda pada masa
penjajahan. Pada masa sekarang tarian ini hanya dipertunjukkan pada acara-acara
tertentu. Tari cokek merupakan kolaborasi budaya Sunda dan Cina dengan iringan
music Betawi.
Selain itu, ada
juga tari Cukin yang merupakan pengembangan dari tari Cokek jyang dipandang
tabu. Tari Cukin menggambarkan kegembiraan muda-mudi yang sedang bersendau
gurau pada malam hari. Tarian ini dibawakan oleh lima penari wanita dan satu
penari pria dengan diiringi sepuluh pemain musik. Selain kedua jenis tarian
tersebut masih ada lagi tarian Banten yang lainnya, diantaranya seperti tari
Saman, tari Katuran, tari Topeng, tari Dala'il Wajun, dan tari Ketuk Tilu.
3) Alat Musik
Alat Musik
tradisional banten digunakan untuk mengiringi berbagai kesenian tradisional dan
upacara adat Banten. Alat-alat musik tersebut meliputi alat musik pukul, tiup,
petik, gesek, dan tabuh. Ada yang dimainkan secara tunggal, dan ada pula yang
dimainkan secara kelompok dengan membentuk sebuah gabungan irama musik
tradisional Banten yang terdengar merdu.
Masyarakat
Baduy memiliki alat musik yang bernama angklung buhun atau yang lebih dikenal
dengan angklung Baduy atau angklung kanekes. Angklung buhun hanya boleh
dimainkan pada saat upacara adat ngaseuk pere huma dibulan kapitu hingga
kasalapan. Masyarakat banten yang mendalami kesenian silat tidak lepas dari
alat musik petitung. Alat musik pengiring silat ini terdiri atas kendang, gong
kempul, kenong, kecrek, gong panggang, dan terompet petitung. Kesenian rudat
Banten juga menggunakan alat musik rabana (terbang) dalam setiap pementasannya.
Alat ini terdiri atas dua buah gedong bibit, mapat, telu, kemcang, kempul
kembar, dan nganak.
Ibu-ibu di wilayah Adat Kasepuhan Cisungsang saat menumbuk padi menghasilkan
musik yang disebut gondang. Hantaman antan pada badan lesung menghasilkan
harmonisasi irama yang indah. Irama pukulan ini berpadu dengan nyanyian dan
jogetan (ibing) ibu-ibu yang bersemangat. Terbentuklah sebuah pertunjukan seni
musik tradisional yang mengesankan.
Sebagai bagian
dari masyarakat Sunda, masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul juga
mengenal alat musik yang lain seperti angklung buhun, dog-dog lojor, rengkong,
toleat, calung renteng, karinding, celempung, dan ketimpring. Berbagai alat
musik ini dapat dinikmati pada saat acara perayaan serentaun.
4) Kerajinan Rakyat
Salah satu
kerajina rakyat Banten yang saat ini sukup fenomenal adalah batik Banten. Batik
Banten memiliki motif yang berbeda dari batik-batik daerah lainnya. Meskipun
belum lama diperkenalkan, tetapi pesona batik Banten mampu menarik khalayak
umum.
Salah satu tokoh
yang mempopulerkan batik banten yaitu Bapak Uke Kurniawan. Bersama seorang
arkeolog yang banyak meneliti Banten Lama, yaitu (alm.) Hasan M. Ambary, beliau
memperkanalkan ragam hias Banten lama dalam bentuk kain batik pada tahun 2002.
Hingga saat ini sudah ada 50 ragam hias yang berhasil dituangkan dalam kain
batik dari 70 ragam hias yang ditemukan. Dua belas diantaranya sudah dipatenkan
sebagai Motif kain batik banten pada tahun 2003. Motif-motif tersebut antara
lain Datulaya, Pamaranggen, Pasulaman, Kapurban, Pancaniti, Mandalikan,
Pasepen, Surosowan, Kawangsan, Srimaganti, Sabakingking, dan
Pejantren. Seni kerajinan juga tidak lepas dari masyarakat Baduy. Ibu-ibu
diperkampungan Baduy menghasilkan tenunan berupa kain, selendang, baju, celana,
ikat kepala, dan sarung. Hasil kerajinan masyarakat Baduy lainnya yaitu koja,
jarog (tas dari kulit teureup), golok, parang, dan berbagai anyaman dari bambu.
Selain itu di beberapa wilayah juga ditemukan seni kerajinan yang khas.
Kerajinan kayu dapat dijumpai di Desa Taman Jaya, kerajinan gerabah terdapat di Bumi Jaya, Daerah Rangkas Bitung terkenal sebagai sentra kerajinan batu kalimaya atau
onix, dan wilayah dengan kerajinan lainnya.
F. Senjata Tradisional
Golok adalah senjata khas Banten. Jenis senjata
ini sangat lekat dengan pendekar dan jawara Banten. Dahulu golok berfungsi
sebagai senjata pertahanan diri, tetapi sekarang hanya sebagai alat seni bela
diri. Salah satu golok khas banten yang terkenal yaitu golok ciomas. Golok yang
hanya dibuat di daerah Ciomas ini terkenal karena ketajaman dan nilai
mistisnya. Menurut cerita golok ciomas hanya dibuat pada bulan Maulud dan
melalui tahapan ritual yang panjang.
Golok juga tidak lepas dari masyarakat Adat Kasepuhan
Banten Kidul dan suku Baduy. Orang baduy selalu menyelipkan golok kemana pun
mereka pergi. Golok menjadi alat utama saat mereka berladang dan berburu di
hutan. Selain itu, dalam tradisi masyarakat Banten juga dikenal senjata-senjata
tradisional lainnya seperti keris, tombak, kujang, godam, parang, pedang, dan
panah.
Sungguh elok daerah tercinta Banten
kita ini. Dari beragam kebudayaan yang ada, sudah tentu banyak
mengandung nilai dan budaya yang tersirat didalamnya. Jika dianalisis kebudayaan
banten ini menyumbang peluang ekonomi yang tnggi dalam pembangunan nasional.
Dimana pertumbuhan ekonomi itu berkembang dari tingkat pertumbuhan ekonomi
kreatif yang nantinya akan menyumbang product bruto nasional, peningkatan
tenaga kerja dan komoditas ekspor hasil dari ekonomi kreatif. Contohnya seperti
pembuatan kerajinan tangan di banten yaitu pembuatan tenun batik, kerajinan
kayu, kerajinan gerabah dan lainnya yang sudah mendunia sehingga dapat menjadi
sektor pendapatan ekonomi bagi masyarakat, penyumbang pendapatan daerah dan
meningkatkan pembangunan nasional. Selain itu seni pertunjukkan pun menyumbang
peluang terbanyak dalam sektor ekonomi, contohnya seperti Debus,
Tari cokek dan pencak silat.
Arah
pembangunan saat ini pun tidak hanya bertumpu pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan
semata, akan tetapi unsur kebudayaan menjadi hal penting yang patut
diperhatikan. Semua ini tak terlepas dari peran kebudayaan yang mampu
menciptakan investasi tersendiri dalam membangun masa depan dan peradaban
bangsa di segala lini kehidupan. Budaya bukan hanya sekedar mampu menciptakan
peluang ekonomi saja, akan tetapi dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.
Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005–2025, pembangunan kebudayaan
tercakup dalam pembangunan bidang sosial, budaya dan kehidupan beragama yang
diarahkan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berahlak mulia, bermoral,
beretika, berbudaya, dan beradab serta mewujudkan bangsa yang berdaya saing
dalam rangka mengembangkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia.
Untuk itu kita sebagai generasi bangsa sudah seharusnya bangga dan senantiasa tetap melestarikan kebudayaan Banten ini, dikarenakan tombak berjalannya UU No 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) adalah tingkat kepedulian generasi bangsa terhadap budaya leluhur Indonesia.
Sumber :
Badan Pusat Statistik Provinsi Banten. (2018). Statistik Sosial Budaya Provinsi Banten. Banten : Badan Pusat Statistik Provinsi Banten
https://tambahpinter.com/alat-musik-tradisional-banten/
https://www.bantenprov.go.id/profil-provinsi/kebudayaan
https://www.senibudayaku.com/2017/11/kebudayaan-daerah-banten.html







Komentar
Posting Komentar