Deru Budaya


Deru Budaya


Aku terlahir atas doa dan perjanjian

Dari sebuah pengakuan antara gerimis dan malam

Serta daun-daun yang basah,

karena hujan menyelimuti awan tebal di pelupuk mata

 

Aku ini terlahir dari bahasa dan kajian

ketika otak harus penuh dengan teori dan memori

yang membuat raga layu akan imajinasi sayu

terbenam pada katup mata yang membiru

serta kulit yang membungkus rapih tulang-tulang

Kini telah menjadi kebodohan dalam mengejar bayang-bayang

 

Aku terpelosok dalam jemari negeri

Yang kian membungkamku untuk diam tak berdaya

Mengepal sekian tanya yang ada

Tuk bisa berdiri kokoh di depan para penghiyanat negeri

 

Jika aku masih dianggap

Genggam erat aku dengan penuh cinta

Tapi jika aku sudah tak dianggap

Aku ingin bertanya padamu pemilik bangsa,

Apakah kau yakin akan terus acuh kepadaku,

setelah aku lenyap dari negerimu?

Apakah tak ada sediktpun  rasa ibamu,

terhadapku sang pelangi bagi bangsamu?

 

Jika aku bisa bicara,

akan kuutarakan keinginanku untuk bersinar seperti dulu

Akan ku titip jiwaku padamu untuk kau angkat lebih tinggi dari kemarin,

Ku titip semua harapanku agar kau bisa maknai cinta yang lebih dalam

 

Ini memang takdirku

tapi bukan takdir yang tetap

Ini takdir yang tergores oleh zaman

Zaman yang teramat menyakitkan

bagiku budaya leluhur bangsa

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer